AADC 2 (2016), salah satu film layar lebar yang sangat banyak dinanti oleh para pecinta film tanah air. Apakah kamu sadar ada salah satu scene warung kopi di film tersebut? Syuting yang 70% berlatar belakang kota Yogyakarta ini, ternyata mengambil Klinik Kopi kepunyaan Firmansyah atau yang lebih akrab di sapa Pepeng  sebagai pilihan.

Nah, kali ini team Penjuru diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung bersama Pepeng, anak muda Indonesia yang berhasil memperkenalkan kopi Indonesia di mata dunia. Yuk, mari simak perjalanan Pepeng bersama Klinik Kopi.

Jelajah Kopi di Bukittinggi hingga Budidaya Kopi Profesional

Sumber: instagram.com/klinikkopi

Pepeng menyadari bahwa alam Indonesia itu sangat kaya, termasuk minuman dari hasil alam Indonesia, seperti kopi. Baginya, kopi Indonesia adalah kopi paling enak di dunia, hanya saja tidak semua petani paham bagaimana pengolahan kopi yang baik. “Ada banyak jenis kopi di Indonesia, sayangnya belum semuanya terjamah. Sebagai pencinta kopi, saya ingin mengenalkannya pada dunia,” ujar Pepeng kepada tim Penjuru.

Tepatnya di penghujung tahun 2013, Pepeng pertama kali memperoleh informasi mengenai petani-petani kopi berkualitas yang ada di Lasi, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pepeng mendapat informasi ini dari sesama pecinta kopi, hingga akhirnya ia memutuskan untuk datang langsung ke lokasi. Di sana, ia berjumpa dengan petani yang sudah sepuh. Ia juga melihat proses penanaman hingga pengolahan kopi yang masih tradisional. Akhirnya, setelah diskusi panjang bersama beberapa orang petani kopi, Pepeng pun mengajarkan secara berkala cara penanaman, pemetikkan hingga pengolahan kopi yang baik.

Desa Pangundungan, Tingkatkan Taraf Hidup Petani Kopi

Sumber: instagram.com/klinikkopi

Travelling untuk menemukan kopi jenis baru adalah salah satu hobi yang hingga saat ini masih dilakoni oleh Pepeng. Salah satu daerah yang juga menjadi tujuannya adalah Desa Pangundungan, Banjarnegara. Di sini, Pepeng berjumpa dengan ibu Murti, salah seorang pelopor perkebunan kopi.

Dua tahun lalu, Pepeng mengajarkan bu Murti bagaimana cara pemilihan bibit, kondisi tanah, masa menyemaian bibit, masa panen hingga peracikkan kopi. Saat itu, apa yang diusahakan oleh Pepeng kepada ibu Murti masih dianggap sepele oleh masyarakat. Hal ini disebabkan harga jual kopi masih murah. “Masyakarat di sana fokus pada penanaman sayur-sayuran. Budidaya kopi bukanlah hal yang menguntungkan,” ujarnya.

Kerja keras, Ketekunan, dan Daya Jual Kopi yang Meningkat Hingga Empat Kali Lipat

Sumber: pexels.com

Pepeng secara berkala memberikan pelatihan kepada Bu Murti. Perlahan namun pasti, usaha bu Murti mulai dilirik oleh warga. Sekarang sudah ada sekitar 30 petani yang fokus pada perkebunan kopi. Dengan ilmu yang sudah diajarkan oleh Pepeng,  ibu Murti bisa menghasilkan kopi kualitas terbaik. Kini, masyarakat merasakan dampaknya. Harga jual kopi sebelum ada pelatihan hanya Rp 20.000/kg, sedangkan sekarang sudah dihargai Rp 80.000/kg. Pepeng menuturkan bahwa harga ini bisa saja terus meningkat pada waktu mendatang.

Klinik Kopi yang Mendunia

Sumber: instagram.com/klinikkopi

Kecintaan Pepeng terhadap kopi tidak hanya berhenti sampai di sana. Ia memiliki gerai di Gang Madukoro, Jalan Kaliurang KM 7,5, Sleman, Yogyakarta. Di sini, kamu bisa menikmati secangkir kopi dan melihat sendiri proses peracikkannya. Pastinya, menikmati kopi racikan Pepeng akan membuatmu menemukan cita rasa kopi khas Indonesia.

Nah, pengunjung di Klinik Kopi ini ternyata tidak hanya warga lokal, melainkan banyak turis asing dari berbagai negara yang datang ke sini. Jadi, tidak heran ya jika tempat ini dijadikan sebagai salah satu lokasi syuting film Indonesia? Wah, keren ya cara Pepeng mengenalkan Kopi Indonesia kepada dunia. Bagaimana denganmu? Sudah merencanakan sesuatu hal yang baru untuk Indonesia?